Mengapa Kau Sakiti Aku?
Kalo loe seorang cewe, dan dalam sebuah hubungan “disakiti” sang cowo, apa yang akan loe lakukan sesudahnya?
Kalo loe seorang cowo, dan dalam sebuah hubungan “disakiti” sang cewek, apa yang akan loe lakukan sesudahnya?
Ini ada sebuah kejadian yang mungkin pernah, atau sedang kita alami, yang didapat dari pembicaraan dengan seorang wanita muda, yang mengalami luka ini.
Wanita ini, sekarang sedang berjuang mengatasi perasaannya yang terluka, yang walaupun kejadiannya sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu, masih menyisakan kenangan pahit sampai saat ini.
Wanita ini banyak kehilangan berat badannya, yang membuat saya kaget saat pertemuan perdana setelah cukup lama kita tidak bersua.
Pasalnya, mungkin sama seperti yang pernah kita alami, dia terluka karena diputuskan oleh kekasihnya.
Dengan perjuangan, dari yang penuh harga diri, sampai merengek dan memelas yang (menurutnya) jadi seperti tidak punya harga diri, upaya untuk menemukan penyebab berakhirnya hubungan, apalagi memperbaiki hubungan, berakhir sia-sia.
Masalahnya, sang cowo, sang pria, sudah tidak mau berargumen, tidak mau memperbaiki hubungan, bahkan secara ekstrim tidak mau bertemu lagi, dengan alasan, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Seem familiar to you?
Tulisan ini saya buat, tanpa maksud akan membela teman saya, atau membela feminisme, tidak juga untuk membela kaum pria. Kita mungkin sedang/ pernah mengalami hal seperti itu.
Saya hanya mau beropini, dan saya menulis ini dengan rasa hormat pada teman saya, tanpa bermaksud apapun.
Saya lanjutkan…
Pembicaraan ini sudah yang kedua kalinya, dengan topik yang masih sama.
Yang mau saya soroti:
1. Desperation yang dipelihara
2. Pola pikir tentang hubungan yang menjadi negatif
Hal pertama yang saya lihat, dari kala pertama sampai pembicaraan terakhir kali (dengan rentang waktu kurang lebih 1 bulan), rasa tidak terima masih dipelihara, dan luka itu masih ada.
Lalu saya berpikir, kalau yang namanya luka, tidak diobati, maka ada 3 hasil yang akan terjadi, tergantung dari jenis luka & penyakitnya:
1. Luka sembuh dengan sendirinya, dengan atau tanpa bekas bilur.
2. Sembuh dengan jangka waktu lebih lama dibandingkan kalau diobati.
3. Tidak sembuh sama sekali
Tapi, saya pikir, pada akhirnya, sembuh atau tidak, itu adalah karena kita sendiri, lewat keyakinan kita, optimisme kita, dan apakah kita mau sembuh atau tidak.
Sebelum topik berkembang, saya akan kembali fokuskan pada cewek tadi, teman saya tadi.
Luka itu masih disimpan. Rasa penasaran mengapa hubungan ini berakhir masih belum juga surut.
Padahal menurut saya, tidak semua misteri itu akan terpecahkan dalam hidup ini.
Apakah Anda setuju?
Jika memang benar demikian, apakah effort yang kita keluarkan, jadi worth it, atau malah menjadi sia-sia?
Jika jawabannya pada akhirnya hanya untuk memuaskan ego, atau ingin tahu mengapa hubungan ini berakhir, maka menurut saya, energy dan effort menjadi unworthy, tak berguna. Malah, bisa jadi, kita menjadi semakin terluka, karena kita tidak bisa menerima argumen dari mantan kita tersebut.
Jika memang ingin bertemu untuk kembali berhubungan, sementara salah satu pihak sudah tidak berminat merestorasi hubungan, juga akan menjadi usaha yang sia-sia pula, karena kendali bukan di tangan kita.
Bukankah, dalam hidup yang hanya sekali ini, sebaiknya kita berfokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, pada hal yang membangun diri, dan worth to do?
Berfokus pada hal yang tidak dapat kita kendalikan, menurut saya jadi seperti kita melawan hukum alam. Contohnya: bencana alam, hujan, kematian, dsb.
Well…
Sayangi energi dan pikiran Anda!
Satu point lagi, menarik melihat teman saya ini juga menjadi negative terhadap hubungan yang berkembang disekitarnya.
Dia menceritakan bahwa ada temannya yang sedang didekati seorang pria, dan sekarang sudah mendekati “jadian”. Lalu teman saya berkata pada saya,”Apa tidak terlalu cepat tuh…”, “Dengan usia segitu,…” , “Saya sih ga yakin…” – intinya adalah judgment.
Ini yang gawat. Dia jadi melakukan judgment terhadap hubungan orang lain, based on her feelings and painful experience. Padahal, kita semua tahu, waktu pendekatan tidak mempengaruhi pacaran akan langgeng atau tidak, dan waktu pendekatan juga tidak menjadi indikator keseriusan hubungan nantinya.
Bisa saja, pendekatan singkat, tapi akhirnya menikah. Toh ini benar-benar terjadi. Teman saya mengalaminya. Kala itu, saya sampai kaget melihat situs web friendsternya, yang statusnya berubah menjadi “married” plus foto pernikahan dan comments dari beberapa orang.
Kembali ke judgment tadi, lebih baik, pertama-tama, berdamailah dengan diri sendiri, perbaiki lagi paradigma tentang sebuah relationship.
Kesimpulan untuk kita semua,
1. Jadikan pengalaman pahit sebagai madu di kemudian hari
2. The past is not equal the future
3. Fokuskan energi pada hal yang berguna dan dapat dikendalikan
4. Jangan biarkan emosi negatif mempengaruhi pola pandang kita terhadap hal lain, apalagi sampai men-judge orang lain.
5. Berdamailah dengan diri Anda sendiri!
Dan ijinkanlah sms dari teman itu saya tulis disini, setelah pembicaraan kita berakhir dan kita berpisah;
“Thx, fad..
.. loe dengerin cerita gua aja dah menghibur.. moga gua bisa bangkit & ceria kaya biasa .. gud luck ya, U emang gud friend yang nyambung.. he2.. iya, gua musti mikir ke depannya lebih baek dalam hal apapun..”
Lastly, I truly hope that she will have her wound healed. I truly hope that she will make peace with herself.
Good luck, my friend… I know you can do it!
June 15, 2008 at 6:44 am
keknya tmn u itu hrs menerima dgn lapank dada n menyadari, kl hub. mrk tu sdh ‘gak kek dl lagi…kek lagu rossa ‘aku bukan untukmu’…gegegee..ho3..ato mencari yg laen yg bs trima kekurangan n kelebihannya tmn u itu..kira2 bnr gak ya?hahahahhaaa..(:P)
August 12, 2009 at 11:04 am
Hm… critanya mirip banget ama kisah cinta gw, mengharubirukan, perjuangan merebut cinta yang telah hilang….. tidak mudah melupakan seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita, intinya….. jangan menyimpan dendam pada orang yang menyakiti kita, terimalah kenyataan, karna yang bisa menyembuhkan luka hati bukan orang lain tapi diri kita sendiri,
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI…………..
NAMUN MEMILIKI SESEORANG
MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA..
Kamu tidak bisa membuat seseorang mencintaimu, yang dapat kamu lakukan hanya menjadi seseorang dapat dicintai
Ketika kamu mencintai, jangan mengharapkan apapun sebagai imbalan, karena
jika kamu demikian, kamu bukan mencintai, melainkan… investasi.
Jika kamu mencintai, kamu harus siap untuk menerima penderitaan. Karena jika
kamu mengharap kebahagiaan, kamu bukan mencintai… melainkan memanfaatkan
Teruslah berkarya Fad, GBU always……..