Di suatu hari, Bandung begitu cerah..

Well well, di hari yang cerah ini, gua diajak pergi, yang rencananya mau nonton The Three Kingdoms alias Samkok, yang buat gua – yang adalah penggemar sejati kisah ini – jadi “must see” movie.

Kita pergi berlima, ke Ciwalk, untuk liat film itu. Apa nyana, akibat ke”karet”an kita pada waktu and ke”mepet”an waktu pergi and jemput-jemputan, akhirnya buat nonton film yang diputar jam 8-an nyaris tak menjadi kenyataan.

Tapi, akhirnya toch, nontonnya batal juga. Lagian, kalau kita mau nonton, akhirnya hanya dihadapkan pada 2 alternatif:

1. Nonton di baris paling depan – alasan: ada di bawah point no.2

2. Nonton jam jam 11 kurang – alasan: kemaleman; hasil: batal

Berhubung gua ga mau kejadian sakit leher and mata pegel – which had happened through personal experience – akhirnya daripada menonton yang harusnya menghibur berbalik menjadi satu kegiatan penderitaan, sepakat deh batal nonton Three Kingdoms-nya.

Sekonyong-konyong setelah batal menonton, tiba-tiba tersadarlah kami, bahwa perut sudah meronta-ronta, yang merubah agenda menjadi makan and hangout.

Justru inilah yang menjadi sumber tulisan ini. Kalau nonton Three Kingdoms, pastinya gua cerita Andy Lau di sini, ga bicara soal optimis-optimisan.

Kita makan dan kemudian hangout di J-Co. Mengigit donat manis dan menyeruput busa cappucino hangat sambil ngobrol. Mulailah lidah yang tak bertulang ini memainkan aksinya. 5 orang, 5 lidah, apalagi ada lidah yang tidak mau mengalah. Topik saat di mobil saat baru berangkat tadi diulang lagi. Apa sih bahasannya? Eng ing eng…inilah dia, 3 mahluk yang gua perkenalkan, namanya Futures, Insurance Linked, dan Reksadana.

Salah seorang teman keep on complaining soal reksadana & insurance linked, yang langsung disambar dengan desperado dari teman yang lain.

Both of them complaining, ngomong kalau futures lebih gila daripada judi, dan insurance linked tidak menjamin profit, insurance yang ‘masa mau mati dulu’ baru keluar duit, masalah klaim, dll, belon lagi cerita si reksadana, yang loss sekian rupiah, volatile-nya bursa saham, juga plus dll yang banyak.

Actually, gua ga mau bahas si mahluk bernama insurance linked, reksadana, atau futures ini. Yang mau gua omong bukan 3 mahluk tadi, tapi pola pikir dari pencipta kemunculan 3 mahluk ini di J-Co.

Menurut gua sih, kelihatannya, kok kayanya, semua hal dilihat dari sisi pesimis? Seperti beberapa komentar yang gua instant replay, as:

- Ga aman, takut uang hilang – Susah klaim – Masa gua harus
mati dulu? – Kaya judi, temen gua rugi sampe… – Reksadana gua rugi sampe… – Perekonomian sekarang… – Rugi waktu – Si bank-nya penipu – Salesnya bermulut manis padahal.. Dan komentar-komentar lain yang sampe ga keingetan…

Celakanya, di saat membahas topik yang lainpun, pesimisnya pun masih dibawa-bawa. Pembicaraan mengacu sampai terjadi satu titik gua dibilang sebagai orang yang optimis. Padahal membela 3 mahluk tadi tidak, membela diri juga tidak (wong ngga kenal dengan 3 mahluk tadi), tapi hanya memberikan impuls-impuls positif.

Tiba-tiba, di detik ke-1000 di J-Co, keluarlah statement dari salah seorang teman (yang mungkin merasa pessimism-area nya dikucek-kucek) yang menyatakan kalau gua orangnya optimis, terlalu optimis, sampai jadi bodoh, dan optimis yang bodoh, optimis yang ga pake otak. Tapi gua pikir, apa salahnya kalau kita optimis dulu, sambil mikir dengan sehat.

Pilih mana ayo:

1. Mau pesimis dulu, dengan bahasa tubuh yang (akan) terbawa pesimis, kemudian berpikir dengan sehat.

2. Optimis dulu, dengan bahasa tubuh yang (akan) terbawa optimis, kemudian berpikir dengan sehat.

Kira-kira, hasil mana yang akan lebih baik?

Jadi berpikir, saat di J-Co, kok yang namanya optimis malah didaulat jadi seperti racun sih? Pesimis & desperation malah jadi madu?

Weleh weleh… Lha, versi Optimis saya bukannya mengenyahkan otak, tapi menurut saya, kalau semua diproses dengan processor negatif, pastinya akan keluar produk negatif. Lebih baik think positive first, think optimist first, supaya ada impuls-impuls positif dulu..

Dan, tanpa membahas soal 3 mahluk tadi, saya mau bertanya untuk kita semua, mengenai 3 mahluk tadi:

1. Apa sudah pelajari insurance, reksa, atau futures?

2. Apa mengambil produk tersebut dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya “kata orang”?

3. Apa mengambil produk tersebut, dengan motif dan risk yang sudah diperhitungkan?

4. Apa sudah mempertimbangkan, apa produk ini diambil sebagai instrument investasi jangka pendek, menengah, panjang, atau trading?

5. Kalau mau mengambil produk, beranikah dengan risk-nya, kalau takut dengan risk-nya atau salah langkah, apa jadi mengumpat atau mencari hewan yang namanya kambing berbulu hitam?

6. Beranikah mencoba, dan belajar dari pengalaman?

7. Dan lain-lain (silahkan tambahkan sendiri)

Akhir kata, optimist still be my style, and still will be my style. Setelah mengambil keputusan dilandasi optimisme + pertimbangan matang, hasilnya diterima dengan lapang dada.


Whatever they say about my optimism, I don’t care. Better to keep my mind healthy.


Lastly, I want to say to myself, and to all of you;


“Optimis ga optimis, optimis aja deh!”