April 2008


BANGUN TIDUR LANGSUNG KUBAWA JALAN-JALAN (ANJING)

Sebuah percakapan, di Yahoo Messenger, 10 menit setelah membuka mata dan menyadari eksistensi di dunia ini, sekali lagi…

Lalu bertemulah dengan Miss EC yang cantik jelita (cuit… cuit…)

Gue: Hallo Miss EC…

Miss EC: Hahaha, baru bangun yah

Gue: Jadi malu (sambil melakukan ritual tarian pat-pat)

Miss EC: Ya gak laaah (kok feeling jelek, ada apa yang terjadi ya?)

Gue: Hehehe

Miss EC: Mungkin karena kemarin kamu bobo nya subuh

Gue: Kok tau? (gua mulai liat-liat, jangan-jangan ada hidden cam di komputer gua… tidak…. Kalo iya… berarti kegiatan selama ini bersama Miyabi, Mihiro, Vivid Interactive…. Tarian pat-pat gua…? Tidakk…)

Miss EC: Ya kan wajar bangunnya jam segini

Gue: Gua tidur jam setengah 4 bo…

Miss EC: EC baru abis mamam neh

Miss EC: Abis di telpon tadi gak di jawab, sms juga gak dibales, ya… nebak aja pasti masih bobo

Miss EC: Mungkin karena kecapean kemarin jalan-jalan? Hehehehhe

Miss EC: Dulu EC juga sering bangun siang

Miss EC: Terus kata mami gini :

Gue: apa tuh… gini ya… Anak cewe… (kayanya udah jadi template deh)

Gue: Gitu ya awalannya?

Miss EC: “Oooii.. anak gadis gak boleh bangun siang-siang.. jodoh gak datang-datang…. rejeki juga males datengin orang yang males bangun pagi-pagi…”

Gue: (entah mengapa, kok seperti pantun dibacain ya… Kalo ga percaya, coba deh baca dengan gaya dan mimik pantunist)

Miss EC: Gitu deh, secara logika nya seh bener Fad

Miss EC: Maaf lho, bukannya EC nyinggung kamu, sama sekali gak demikian Fad… Maaf yaa

Gue: Hehheheeh (senyum pahit), gak lah, gua juga suka diomongin gitu ama nyokap gua, cuma bedanya awalannya doang

Gue: bukan anak gadis (tapi anak tampan…LHO)

Gue: kalo dibilang anak gadis, gawat deh (sambil mencek sesuatu properti tubuh yang menjelaskan keberadaan perbedaan yang hakiki dan signifikan)

Miss EC: yhahahahaha

Miss EC: Coba deh fadli jangan bobo siang atau sore, bobo nya jam 10 malam. trus… bangun jam 6 pagi. Coba selama seminggu… EC percaya dan yakin banget, “Cahaya” tubuh kamu akan jauh lebih bagus, dan itu mempengaruhi hoki buat kamu juga lho Fad… :)

Gue: Seriusan tuh EC…?

Miss EC: EC pun sejak merubah kebiasaan jelek itu (meskipun waktu itu masih nganggur), buktinya… sejak itu karier EC melejit

Gue: Ah yang bener nih…

Miss EC: Serius fad, ini bukan masalah fengshui, tapi ini karena memang Aura orang yang biasa bangun pagi, lebih segar dan cerah… Lebih positif… karena dia menyerap energi positif

Gue: Ya udah gua nurut deh, jam 12 malem tidur, bangun jam 7 pagi…

Gue: Tapi bangun pagi harus keluar kamar ya…?

Miss EC: yeeee, jangan bangun jam 7, jam 6 pagi

Miss EC: ya.. bangun pagi keluar kamar

Gue: Kok harus jam 6 sih

Gue: Udah aja sekaligus bawa anjing jalan-jalan

Miss EC: Jam 6 itu Chi nya lagi bagus bangeeeett

Gue: sambil digigitin anjingnya (kok ga diwaro* sih?)

*diwaro = bahasa jerman, artinya digubris. Kalo masih ga jelas juga, baca kamus, keyword; gubris. Warning: Kamus bahasa Indonesia ya!

Miss EC: Makanya orang tua yang rajin bangun jam 6 pagi, energi nya masih bagus

Miss EC: Yaaaa, itu pinter… ajak aja jalan-jalan anjing, fad…

Gue: (Mungkin maksudnya ajak anjing jalan-jalan yah)

Miss EC: Seru deh pasti, apalagi anjing kalo pagi-pagi diajak jalan mah seneng banget

Gue: (Kalo jalan-jalan anjing maknanya jadi aneh, apalagi kalo dibacanya, “Jalan-jalan, Anjing!”)

Gue: Babe gua bangun pagi melulu tapi ga kaya-kaya, kenapa ya?

(Protest, campur Resistant, campur Skeptis, plus rasa ingin tahu – gak pake tempe -?)

Miss EC: Kembali lagi, ke pribadi nya fad… Aduh gimana mau ngomong nya yaa

Miss EC: Intinya, kalo kita bangun pagi-pagi kesannya gak malas gitu :)

Gue: O… (Rupanya ini inti misterinya – kesan gak males toch?)

Miss EC: Sejak gue rajin bangun jam 6 pagi, jujur… karier gue melejit

Gue: MAU MAU

Miss EC: Ya.. itupun disertai juga dengan Attitude dan Motivasi diri kita untuk maju

Gue: Oh, mungkin Babe gua kurang 2 point terakhir (berasa cari kambing item sekarang)… Maaf ya Babe

Miss EC: Kalo bangun tidur pagi2, lebih segar, mandi… bersih… fresh.

Miss EC: Orang seneng liat kita.. hoki juga seneng nyamperin kita… umpama kembang deh yg segar, bersih, wangi, cerah, kan disamperin sama serangga..

Gue: Ini masalahnya… Kalo bangun pagi tapi mandinya siang gimana?

Miss EC: Ya dibiasain, Fad.. Kamu coba deh terapi itu 1-2 minggu, aku yakin, kamu sambil cari kerja, kamu bisa dapat kok

Miss EC: TRUST ME

Miss EC: Gak ada salahnya coba. Oya, mandinya juga harus pagi fad

Gue: Gua mau didatengin serangga asal jangan ditusuk ama jarumnya (masih konsen sama bunga yang indah dan fresh)

Miss EC: Hayoo.. kamu kan seorang motivator.. harus bisa motivasi diri sendiri lho

Gue: iya iya (JREBBB tusukan pisau ke jantung… tepat)

Gue: jadi malu

Miss EC: maaf ya fad, aku cerewet ya ?? gak ada maksud ku lho

Gue: Tapi motivasinya masih ga jelas-jelas amat (masih cari alasan coba??)

Gue: Kecuali ya itu, jadi bunga penghisap serangga and menjadi manusia berpancaran Chi cerah

Miss EC: hahahahaha… Intinya.. EC hanya sharing aja, dengan apa yang sudah pernah EC alami :)

Miss EC: Kan cowok biasanya pusing dicerewetin

Miss EC: Fad..nanti Mei dah mo datang, jadikan 1 mei sebagai hari baru kamu, semangat baru, gaya hidup baru, pencerahan baru…

Gue: Kok mendadak gua jadi feel desperate banget ya

Miss EC: EC sangat percaya, kalo kamu bangun pagi-pagi dengan semangat, positif, ada gerak (main sama anjing dan bantuin mama) pasti deh… Tuhan akan tersenyum buat kamu

Gue: ehm…kok jadi ada bantuin mama ya

Miss EC: ups… er bikin kamu bete yaa

Gue: gak gak… GAK… GAK…GAKKKK GAKKKKKKKKKK (kok jadi suara burung gagak ya?)

Gue: Cuma jadi merasa jadi kecil aja (Cuma tentunya, dari bagian tubuhku ini ada yang BESAR booo)

Miss EC: ampun deh fad.. sungguh er gak maksud gitu

Gue: hehehehe… gapapa. Kembali ke topikkkk

Miss EC: sungguh fad, gak ada maksud EC bikin kamu jadi ngerasa kecil, jangan gitu yaaa

Gue: Gak lah, gua tau loe ga maksud gitu, lagian maksud loe juga baek ke gua kok

Miss EC: kalo gitu for next EC gak usah ngasih kamu motivation lagi aja deh, daripada bikin kamu jadi mellow :)

Gue: EC EC…(kok jadi dibaca ece-ece*?)

* Ece-ece: another bahasa Jerman, dari Jerman Barat. Artinya remeh, cetek, seperti recehan – FYI, please refer again to Kamus Besar Bahasa Indonesia

Gue: gapapa kasih masukan kayagitu, gua mau kok dapet masukan and sharing-an (kalo SHARINGAN jadi… – khusus fans Naruto pasti ngerti maksud SHARINGAN apa)

Gue: Laen kali gapapa ya. Tapi kalo gua bete gua ngomong kok. Thanks for care for me, EC

CONCLUSION

Yah, BANGUN PAGI DEH. Yang penting, CHI, SEHAT, jadi kaya BUNGA dengan ESSENCE MAN SCENT yang segar. Gua stress… Biasanya blog gua berisi moral story… kalo buat yang ini, yah, YAH… pecahkanlah misterinya ya!

Mengapa Kau Sakiti Aku?

Kalo loe seorang cewe, dan dalam sebuah hubungan “disakiti” sang cowo, apa yang akan loe lakukan sesudahnya?

Kalo loe seorang cowo, dan dalam sebuah hubungan “disakiti” sang cewek, apa yang akan loe lakukan sesudahnya?

Ini ada sebuah kejadian yang mungkin pernah, atau sedang kita alami, yang didapat dari pembicaraan dengan seorang wanita muda, yang mengalami luka ini.

Wanita ini, sekarang sedang berjuang mengatasi perasaannya yang terluka, yang walaupun kejadiannya sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu, masih menyisakan kenangan pahit sampai saat ini.

Wanita ini banyak kehilangan berat badannya, yang membuat saya kaget saat pertemuan perdana setelah cukup lama kita tidak bersua.

Pasalnya, mungkin sama seperti yang pernah kita alami, dia terluka karena diputuskan oleh kekasihnya.

Dengan perjuangan, dari yang penuh harga diri, sampai merengek dan memelas yang (menurutnya) jadi seperti tidak punya harga diri, upaya untuk menemukan penyebab berakhirnya hubungan, apalagi memperbaiki hubungan, berakhir sia-sia.

Masalahnya, sang cowo, sang pria, sudah tidak mau berargumen, tidak mau memperbaiki hubungan, bahkan secara ekstrim tidak mau bertemu lagi, dengan alasan, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Seem familiar to you?

Tulisan ini saya buat, tanpa maksud akan membela teman saya, atau membela feminisme, tidak juga untuk membela kaum pria. Kita mungkin sedang/ pernah mengalami hal seperti itu.

Saya hanya mau beropini, dan saya menulis ini dengan rasa hormat pada teman saya, tanpa bermaksud apapun.

Saya lanjutkan…

Pembicaraan ini sudah yang kedua kalinya, dengan topik yang masih sama.

Yang mau saya soroti:

1. Desperation yang dipelihara

2. Pola pikir tentang hubungan yang menjadi negatif

Hal pertama yang saya lihat, dari kala pertama sampai pembicaraan terakhir kali (dengan rentang waktu kurang lebih 1 bulan), rasa tidak terima masih dipelihara, dan luka itu masih ada.

Lalu saya berpikir, kalau yang namanya luka, tidak diobati, maka ada 3 hasil yang akan terjadi, tergantung dari jenis luka & penyakitnya:

1. Luka sembuh dengan sendirinya, dengan atau tanpa bekas bilur.

2. Sembuh dengan jangka waktu lebih lama dibandingkan kalau diobati.

3. Tidak sembuh sama sekali

Tapi, saya pikir, pada akhirnya, sembuh atau tidak, itu adalah karena kita sendiri, lewat keyakinan kita, optimisme kita, dan apakah kita mau sembuh atau tidak.

Sebelum topik berkembang, saya akan kembali fokuskan pada cewek tadi, teman saya tadi.

Luka itu masih disimpan. Rasa penasaran mengapa hubungan ini berakhir masih belum juga surut.

Padahal menurut saya, tidak semua misteri itu akan terpecahkan dalam hidup ini.

Apakah Anda setuju?

Jika memang benar demikian, apakah effort yang kita keluarkan, jadi worth it, atau malah menjadi sia-sia?

Jika jawabannya pada akhirnya hanya untuk memuaskan ego, atau ingin tahu mengapa hubungan ini berakhir, maka menurut saya, energy dan effort menjadi unworthy, tak berguna. Malah, bisa jadi, kita menjadi semakin terluka, karena kita tidak bisa menerima argumen dari mantan kita tersebut.

Jika memang ingin bertemu untuk kembali berhubungan, sementara salah satu pihak sudah tidak berminat merestorasi hubungan, juga akan menjadi usaha yang sia-sia pula, karena kendali bukan di tangan kita.

Bukankah, dalam hidup yang hanya sekali ini, sebaiknya kita berfokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, pada hal yang membangun diri, dan worth to do?

Berfokus pada hal yang tidak dapat kita kendalikan, menurut saya jadi seperti kita melawan hukum alam. Contohnya: bencana alam, hujan, kematian, dsb.

Well…

Sayangi energi dan pikiran Anda!

Satu point lagi, menarik melihat teman saya ini juga menjadi negative terhadap hubungan yang berkembang disekitarnya.

Dia menceritakan bahwa ada temannya yang sedang didekati seorang pria, dan sekarang sudah mendekati “jadian”. Lalu teman saya berkata pada saya,”Apa tidak terlalu cepat tuh…”, “Dengan usia segitu,…” , “Saya sih ga yakin…” – intinya adalah judgment.

Ini yang gawat. Dia jadi melakukan judgment terhadap hubungan orang lain, based on her feelings and painful experience. Padahal, kita semua tahu, waktu pendekatan tidak mempengaruhi pacaran akan langgeng atau tidak, dan waktu pendekatan juga tidak menjadi indikator keseriusan hubungan nantinya.

Bisa saja, pendekatan singkat, tapi akhirnya menikah. Toh ini benar-benar terjadi. Teman saya mengalaminya. Kala itu, saya sampai kaget melihat situs web friendsternya, yang statusnya berubah menjadi “married” plus foto pernikahan dan comments dari beberapa orang.

Kembali ke judgment tadi, lebih baik, pertama-tama, berdamailah dengan diri sendiri, perbaiki lagi paradigma tentang sebuah relationship.

Kesimpulan untuk kita semua,

1. Jadikan pengalaman pahit sebagai madu di kemudian hari

2. The past is not equal the future

3. Fokuskan energi pada hal yang berguna dan dapat dikendalikan

4. Jangan biarkan emosi negatif mempengaruhi pola pandang kita terhadap hal lain, apalagi sampai men-judge orang lain.

5. Berdamailah dengan diri Anda sendiri!

Dan ijinkanlah sms dari teman itu saya tulis disini, setelah pembicaraan kita berakhir dan kita berpisah;

Thx, fad.. :-D .. loe dengerin cerita gua aja dah menghibur.. moga gua bisa bangkit & ceria kaya biasa .. gud luck ya, U emang gud friend yang nyambung.. he2.. iya, gua musti mikir ke depannya lebih baek dalam hal apapun..”

Lastly, I truly hope that she will have her wound healed. I truly hope that she will make peace with herself.

Good luck, my friend… I know you can do it!

Di suatu hari, Bandung begitu cerah..

Well well, di hari yang cerah ini, gua diajak pergi, yang rencananya mau nonton The Three Kingdoms alias Samkok, yang buat gua – yang adalah penggemar sejati kisah ini – jadi “must see” movie.

Kita pergi berlima, ke Ciwalk, untuk liat film itu. Apa nyana, akibat ke”karet”an kita pada waktu and ke”mepet”an waktu pergi and jemput-jemputan, akhirnya buat nonton film yang diputar jam 8-an nyaris tak menjadi kenyataan.

Tapi, akhirnya toch, nontonnya batal juga. Lagian, kalau kita mau nonton, akhirnya hanya dihadapkan pada 2 alternatif:

1. Nonton di baris paling depan – alasan: ada di bawah point no.2

2. Nonton jam jam 11 kurang – alasan: kemaleman; hasil: batal

Berhubung gua ga mau kejadian sakit leher and mata pegel – which had happened through personal experience – akhirnya daripada menonton yang harusnya menghibur berbalik menjadi satu kegiatan penderitaan, sepakat deh batal nonton Three Kingdoms-nya.

Sekonyong-konyong setelah batal menonton, tiba-tiba tersadarlah kami, bahwa perut sudah meronta-ronta, yang merubah agenda menjadi makan and hangout.

Justru inilah yang menjadi sumber tulisan ini. Kalau nonton Three Kingdoms, pastinya gua cerita Andy Lau di sini, ga bicara soal optimis-optimisan.

Kita makan dan kemudian hangout di J-Co. Mengigit donat manis dan menyeruput busa cappucino hangat sambil ngobrol. Mulailah lidah yang tak bertulang ini memainkan aksinya. 5 orang, 5 lidah, apalagi ada lidah yang tidak mau mengalah. Topik saat di mobil saat baru berangkat tadi diulang lagi. Apa sih bahasannya? Eng ing eng…inilah dia, 3 mahluk yang gua perkenalkan, namanya Futures, Insurance Linked, dan Reksadana.

Salah seorang teman keep on complaining soal reksadana & insurance linked, yang langsung disambar dengan desperado dari teman yang lain.

Both of them complaining, ngomong kalau futures lebih gila daripada judi, dan insurance linked tidak menjamin profit, insurance yang ‘masa mau mati dulu’ baru keluar duit, masalah klaim, dll, belon lagi cerita si reksadana, yang loss sekian rupiah, volatile-nya bursa saham, juga plus dll yang banyak.

Actually, gua ga mau bahas si mahluk bernama insurance linked, reksadana, atau futures ini. Yang mau gua omong bukan 3 mahluk tadi, tapi pola pikir dari pencipta kemunculan 3 mahluk ini di J-Co.

Menurut gua sih, kelihatannya, kok kayanya, semua hal dilihat dari sisi pesimis? Seperti beberapa komentar yang gua instant replay, as:

- Ga aman, takut uang hilang – Susah klaim – Masa gua harus
mati dulu? – Kaya judi, temen gua rugi sampe… – Reksadana gua rugi sampe… – Perekonomian sekarang… – Rugi waktu – Si bank-nya penipu – Salesnya bermulut manis padahal.. Dan komentar-komentar lain yang sampe ga keingetan…

Celakanya, di saat membahas topik yang lainpun, pesimisnya pun masih dibawa-bawa. Pembicaraan mengacu sampai terjadi satu titik gua dibilang sebagai orang yang optimis. Padahal membela 3 mahluk tadi tidak, membela diri juga tidak (wong ngga kenal dengan 3 mahluk tadi), tapi hanya memberikan impuls-impuls positif.

Tiba-tiba, di detik ke-1000 di J-Co, keluarlah statement dari salah seorang teman (yang mungkin merasa pessimism-area nya dikucek-kucek) yang menyatakan kalau gua orangnya optimis, terlalu optimis, sampai jadi bodoh, dan optimis yang bodoh, optimis yang ga pake otak. Tapi gua pikir, apa salahnya kalau kita optimis dulu, sambil mikir dengan sehat.

Pilih mana ayo:

1. Mau pesimis dulu, dengan bahasa tubuh yang (akan) terbawa pesimis, kemudian berpikir dengan sehat.

2. Optimis dulu, dengan bahasa tubuh yang (akan) terbawa optimis, kemudian berpikir dengan sehat.

Kira-kira, hasil mana yang akan lebih baik?

Jadi berpikir, saat di J-Co, kok yang namanya optimis malah didaulat jadi seperti racun sih? Pesimis & desperation malah jadi madu?

Weleh weleh… Lha, versi Optimis saya bukannya mengenyahkan otak, tapi menurut saya, kalau semua diproses dengan processor negatif, pastinya akan keluar produk negatif. Lebih baik think positive first, think optimist first, supaya ada impuls-impuls positif dulu..

Dan, tanpa membahas soal 3 mahluk tadi, saya mau bertanya untuk kita semua, mengenai 3 mahluk tadi:

1. Apa sudah pelajari insurance, reksa, atau futures?

2. Apa mengambil produk tersebut dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya “kata orang”?

3. Apa mengambil produk tersebut, dengan motif dan risk yang sudah diperhitungkan?

4. Apa sudah mempertimbangkan, apa produk ini diambil sebagai instrument investasi jangka pendek, menengah, panjang, atau trading?

5. Kalau mau mengambil produk, beranikah dengan risk-nya, kalau takut dengan risk-nya atau salah langkah, apa jadi mengumpat atau mencari hewan yang namanya kambing berbulu hitam?

6. Beranikah mencoba, dan belajar dari pengalaman?

7. Dan lain-lain (silahkan tambahkan sendiri)

Akhir kata, optimist still be my style, and still will be my style. Setelah mengambil keputusan dilandasi optimisme + pertimbangan matang, hasilnya diterima dengan lapang dada.


Whatever they say about my optimism, I don’t care. Better to keep my mind healthy.


Lastly, I want to say to myself, and to all of you;


“Optimis ga optimis, optimis aja deh!”